A.
KONSEP BISNIS DAN KEWIRAUSAHAAN
Dalam ilmu ekonomi, bisnis adalah individu atau organisasi yang menjual
barang atau jasa kepada konsumen atau bisnis lainnya, untuk mendapatkan
keuntungan. Secara historis kata bisnis dari Bahasa Inggris business, atau dari kata dasar busy yang berarti "sibuk"
dalam konteks individu, komunitas, ataupun masyarakat. Sibuk diartikan dengan
sibuk mengerjakan aktivitas dan pekerjaan yang mendatangkan keuntungan. Dalam
sistem perekonomian kapitalis, di mana kebanyakan bisnis dimiliki oleh pihak
swasta, bisnis dibentuk untuk mendapatkan keuntungan dan meningkatkan
kemakmuran para pemiliknya. Pemilik dan operator dari sebuah bisnis mendapatkan
imbalan sesuai dengan waktu, usaha, atau modal yang mereka berikan. Namun
demikian, tidak semua bisnis mengejar keuntungan seperti ini, misalnya bisnis
koperasi yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan semua anggotanya atau
institusi pemerintah yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Model
bisnis seperti ini kontras dengan sistem sosialistis, di mana bisnis besar kebanyakan
dimiliki oleh pemerintah, masyarakat umum, atau serikat pekerja. Bisnis juga
berarti keadaan dimana seseorang atau sekelompok orang sibuk melakukan
pekerjaan yang menghasilkan keuntungan. Kata "bisnis" sendiri memiliki tiga penggunaan, tergantung ruang
lingkupnya, penggunaan singular kata bisnis dapat merujuk pada badan usaha,
yaitu kesatuan yuridis (hukum), teknis, dan ekonomis yang bertujuan mencari
laba atau keuntungan. Penggunaan yang lebih luas dapat merujuk pada sektor
pasar tertentu, misalnya "bisnis pertelevisian." Penggunaan yang
paling luas merujuk pada seluruh aktivitas yang dilakukan oleh komunitas
penyedia barang dan jasa. Meskipun demikian, definisi "bisnis" yang
tepat masih menjadi bahan perdebatan hingga saat ini.
Organisasi Bisnis adalah organisasi yang
mencoba mendapatkan keuntungan dengan menyediakan barang atau produk dan
memberikan jasa atau layanan yang memenuhi kebutuhan pelanggan. Mengenal bisnis
secara lebih
mendalam berhubungan dengan perubahan fundamental, perubahan produk dan jasa
untuk mendapatkan uang atau keuntungan. Bisnis harus dapat menghasilkan dan
menawarkan produk dan jasa yang dibutuhkan dan diinginkan pelanggan. Namun
demikian, bisnis juga harus adil dan jujur dalam menghasilkan produk dan jasa
dan memperoleh keuntungan. Oleh karena itu, bisnis merupakan proses perubahan
nilai yang terintegrasi antara pihak perusahaan atau organisasi dan pihak
pelanggan. Bisnis mempunyai beberapa aspek, yaitu keuntungan individu dan
kelompok, penciptaan nilai, penciptaan barang dan jasa, dan keuntungan melalui transaksi.
Seperti yang sudah disampaikan pada bagian pertama di depan bahwa bisnis
yang berhasil atau bisnis yang sehat adalah bisnis yang dapat menciptakan
keuntungan baik jangka pendek maupun jangka panjang. Keuntungan bukan hanya
dalam bentuk uang, melainkan juga dalam bentuk moral dan komitmen dalam jangka
panjang. Untuk dapat memulai bisnis, ada beberapa langkah yang perlu dilakukan,
yaitu: 1. menentukan visi dan misi
bisnis. Visi merupakan deklarasi
mengenai bisnis apakah yang akan dicapai atau dilakukannya, sedangkan misi merupakan deklarasi alasan bisnis
tersebut harus ada dan hal yang akan dilakukan bisnis tersebut. Fungsi bisnis
meliputi fungsi bisnis secara mikro dan fungsi bisnis secara makro. Fungsi
mikro adalah kontribusi bisnis yang berpengaruh pada beberapa pihak yang
terlibat secara langsung dalam proses bisnis tersebut, seperti karyawan,
manajer atau pimpinan perusahaan, komisaris, dan pemegang saham. Fungsi makro
meliputi kontribusi bisnis pada pihak-pihak yang tidak secara langsung terlibat
dalam bisnis, seperti masyarakat sekitar perusahaan, bangsa, dan negara.
Bisnis mempunyai beberapa elemen yang dapat menunjang kesuksesannya,
yaitu modal, material atau bahan-bahan, tenaga kerja, dan manajemen atau
keahlian. Semua elemen bisnis tersebut yang akan diproses atau ditransformasi
menjadi barang dan layanan yang siap dipasarkan kepada pelanggan. Untuk
melaksanakan bisnis dan mencapai tujuan bisnis, organisasi bisnis memerlukan
sistem bisnis. Sistem bisnis mempunyai karakteristik yaitu kompleksitas dan
keanekaragaman, saling ketergantungan, serta perubahan dan inovasi. Sedangkan
tujuan bisnis meliputi keuntungan, pertumbuhan, kesinambungan, stabilitas,
pelayanan umum, dan kesejahteraan. 2.
Menentukan indikator kesuksesan bisnis. Ada lima indikator kesuksesan
bisnis yang telah dipaparkan pada subpokok bahasan sebelumnya, yaitu kinerja
keuangan, kebutuhan dan nilai pelanggan, kualitas produk dan jasa, inovasi dan
kreativitas, dan komitmen karyawan. 3.
Menilai lingkungan bisnis dan dampaknya bagi bisnis yang akan dilakukan.
Ada enam faktor lingkungan yang
berdampak bagi kehidupan dan perkembangan bisnis, yaitu isu dan
kecenderungan perbedaan, kekuatan perekonomian, pengaruh global, pasar dan
proses finansial, kekuatan legal, dan peraturan-peraturan yang ada, serta
struktur industri. 4. Menyediakan produk
dan jasa yang hebat dan memuaskan. Langkah keempat ini tentu saja dilakukan
setelah bisnis berjalan atau beroperasi. Beberapa hal yang harus diperhatikan
adalah memperoleh dan menggunakan sumber daya dan teknologi yang tepat,
mengintegrasikan kegiatan dan meningkatkan komitmen, berpikir secara strategik,
penyediaan nilai melalui kualitas produk dan jasa, serta meningkatkan nilai
produk dan jasa dengan berkomunikasi dengan pelanggan. 5. Mengadakan evaluasi terhadap proses bisnis yang telah berjalan,
yang meliputi pencapaian kinerja keuangan, pemenuhian kebutuhan pelanggan,
tercapainya kualitas produk dan jasa, kreativitas dan inovasi yang dilakukan,
serta mengevaluasi komitmen karyawan. Kelima hal tersebut akan digunakan
perusahaan sebagai cara mengadakan perbaikan.
Selanjutnya,
istilah kewirausahaan (entrepreneurship)
berasal dari Perancis yang secara harafiah diterjemahkan sebagai perantara.
Secara lebih luas, kewirausahaan merupakan
proses penciptaan sesuatu yang berbeda nilainya dengan menggunakan usaha dan
waktu yang diperlukan, memikul risiko finansial, psikologi, dan sosial yang
menyertainya, dan menerima balas jasa moneter dan kepuasan pribadi.
Kewirausahaan sering diterjemahkan menjadi wirausaha atau wiraswasta.
Kewirausahaan juga merupakan proses mencari kesempatan bisnis pada kondisi yang
berisiko.
Kewirausahaan
terdiri atas kata dasar wirausaha yang mendapat awalan ke dan akhiran an,
sehingga dapat diartikan kewirausahaan adalah hal-hal yang terkait dengan
wirausaha. Wirausaha sama dengan wiraswasta. Wira berarti manusia unggul, teladan, berbudi luhur, berjiwa besar,
berani, paahlawan kemajuan. Dalam bisnis, wira
berarti keberanian dan usaha berarti kegiatan bisnis yang komersial atau
nonkomersial. Oleh karena itu, kewirausahaan dapat pula diartikan sebagai
keberanian seseorang untuk melaksanakan suatu kegiatan bisnis. Kewirausahaan
juga menyakup kegiatan-kegiatan yang dibutuhkan untuk menciptakan atau
melaksanakan perusahaan pada saat semua pasar belum terbentuk atau belum
teridentifikasi dengan jelas, atau komponen fungsi produksinya belum diketahui
sepenuhnya.
Ada tiga perilaku utama dalam kewirausahaan, yaitu mempunyai inisiatif,
mengorganisasi atau mereorganisasi mekanisme sosial dan ekonomi untuk mengubah
sumber daya dan situasi dengan cara praktis, serta mau menerima resiko atau
kegagalan. Kewirausahaan bertujuan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat dan
secara umum meningkatkan harkat dan martabat pribadi wirausahawan serta bangsa
dan negara. Dengan pengetahuan tersebut diharapkan akan semakin banyak warga
negara Indonesia yang terjun dalam dunia usaha, namun perlu diperhatikan dalam
berusaha harus mengedepankan kejujuran sehingga hal yang dihasilkan dapat
bermanfaat bagi masyarakat luas. Kewirausahaan merupakan pendekatan dalam
pembaruan ekonomi dan merupakan pilar untuk menciptakan kesempatan kerja. Dapat
dikatakan bahwa kewirausahaan dapat menciptakan ribuan kesempatan kerja bagi
masyarakat sehingga dapat meningkatkan pembangunan perekonomian suatu negara.
Namun demikian, kewirausahaan bukan merupakan suatu proses yang mudah. Banyak
para wirausaha atau pebisnis yang gagal dalam menjalankan bisnisnya. Banyak
faktor yang memengaruhi keberhasilan wirausahawan, seperti tersedianya dana dan
fasilitas, kurangnya semangat kerja, dan kemampuan berusaha, serta faktor
kepribadian wirausaha atau pebisnis tersebut. Sifat kepribadian yang dimaksud
adalah sifat kepribadian yang kreatif dan inovatif.
Wirausahawan adalah orang-orang yang memiliki kemampuan melihat dan
menilai kesempatan-kesempatan bisnis; mengumpulkan sumber daya- sumber daya
yang dibutuhkan untuk mengambil tindakan yang tepat, mengambil keuntungan serta
memiliki sifat, watak, dan kemauan untuk mewujudkan gagasan inovatif ke dalam
dunia nyata secara kreatif dalam rangka meraih sukses/meningkatkan pendapatan.
Beberapa konsep kewirausahaan seolah-olah identik dengan kemampuan para
wirausahawan dalam dunia usaha. Dalam kenyataannya, kewirausahaan tidak selalu
identik dengan watak/ciri wirausahawan semata, karena sifat-sifat wirausahawan
pun dimiliki oleh seorang yang bukan wirausahawan. Wirausaha mencakup semua
aspek pekerjaan, baik karyawan swasta maupun pemerintahan. Wirausahawan adalah
mereka yang melakukan upaya-upaya kreatif dan inovatif dengan jalan
mengembangkan ide, dan meramu sumber daya untuk menemukan peluang dan perbaikan
hidup. Kewirausahaan muncul apabila seseorang individu berani
mengembangkan usaha-usaha dan ide-ide barunya. Proses kewirausahaan meliputi
semua fungsi, aktivitas, dan tindakan yang berhubungan dengan perolehan peluang
dan penciptaan organisasi usaha. Oleh karena itu, konsep kewirausahaan tidak
harus selalu dikaitkan dengan bisnis swasta yang selalu menghasilkan dan
menjual produk, namun konsep tersebut terkait dengan kreativitas dan inovasi
yang dikembangkan di tempat kerjanya dengan membaca peluang yang ada untuk
mendapatkan keuntungan atau prestasi kerja yang lebih baik.
Wirausaha memang harus kreatif dan inovatif. Mereka harus mampu
menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda, mengubah nilai lama menjadi nilai
baru, mempraktikkan inovasi secara sistematik, dan sebagainya. Wirausahawan
yang berhasil harus mampu menciptakan hal-hal yang baru dan dengan mengubah
yang lama, atau menciptakan yang baru sama sekali. Kebaruan yang diciptakan
oleh wirausahawan adalah kebaruan yang dapat beradaptasi dengan lingkungan
sekitarnya. Hal yang baru tersebut tidak hanya sebatas pada gagasan yang baru,
namun harus mampu menciptakan atau mewujudkan gagasan baru tersebut dalam
praktek atau realita. Kepribadian adaptif dan inovatif ini ditunjukkan dengan
berbagai macam perilaku, seperti mudah bergaul, suka bekerja keras, percaya
diri, berani mengambil resiko, mandiri, mampu mengendalikan diri sendiri, dan
mau berinovasi atau mencoba hal-hal yang baru.
Wirausaha
juga berhasil karena faktor keluarga yang juga menjadi wirausaha. Seorang anak
yang berasal dari keluarga wirausaha juga akan mampu menjadi wirausahawan yang
berhasil. Hal ini disebabkan keluarga wirausahawan biasanya telah terbiasa
mandiri, bekerja keras, berani menanggung risiko, dan mempunyai fleksibilitas
tinggi. Seringkali kemampuan berwirausaha dipengaruhi oleh faktor genetika.
Anak yang terlahir dari orang tua yang wirausaha atau pebisnis pada umumnya
mereka juga mampu jadi wirausaha. Apabila faktor genetika tersebut dipupuk
dengan berbagai pengalaman berwirausaha yang dilakukan bersama dengan orang
tuanya, dan didukung dengan kemampuan berkreasi dan berinovasi maka
kemampuannya berwirausaha akan semakin baik. Namun demikian, menjadi wirausaha
atau pebisnis yang berhasil juga dapat diraih dengan belajar dan bekerja dengan
tidak kenal lelah, bertanya kepada mereka yang berpengalaman, dan mau
mengadakan introspeksi dan evaluasi terhadap kelemahan dan kelebihannya.
Konsep kewirausahaan dapat ditinjau dari pandangan bisnis, manajerial,
dan personal. Konsep kewirausahaan dari pandangan personal biasanya dihubungkan
dengan karakteristik kepribadian dan latar belakang sosial ekonomi keluarga.
Kewirausahaan juga merupakan proses penciptaan sesuatu yang baru dengan
memerhatikan waktu dan usaha, mengasumsikan berbagai kondisi yang mendukung
seperti sosial, keuangan, fisik, risiko sosial, dan menerima penghargaan yang
bersifat moneter, kepuasan, dan kemandirian personal. Oleh karena itu, terdapat
empat aspek dasar dalam kewirausahaan, yaitu:
1.
Kewirausahaan
melibatkan proses penciptaan nilai yang baru.
2.
Kewirausahaan
membutuhkan waktu dan usaha.
3.
Kewirausahaan
memiliki berbagai dukungan.
4.
Kewirausahaan
menghasilkan penghargaan.
Dalam dunia bisnis, kewirausahaan disebut dengan kewirausahaan bisnis.
Wirausaha atau pebisnis juga dituntut untuk mampu mengorganisasi,
mengoperasikan, dan mengasumsikan risiko bisnis. Selain itu, kewirausahaan juga
menunjukkan seperangkat keahlian yang diperlukan untuk memulai dan menjalankan
bisnis kecil. Keahlian ini meliputi keahlian dalam mengidentifikasi kebutuhan
pasar dan kemampuan menanggung risiko. Namun demikian, tidak semua orang yang
memulai dan menjalankan bisnis kecil disebut dengan wirausaha atau pebisnis.
Pemilik bisnis kecil bukan selalu seorang wirausaha. Bisnis kecil yang tidak
pernah menciptakan sesuatu yang baru, tidak pernah mencapai kesejahteraan,
tidak pernah mengoptimalkan penawaran dan permintaan di pasar dan tidak peduli
dengan nilai-nilai baru juga menunjukkan tidak adanya wirausahawan yang
menggerakkannya. Pada umumnya bisnis tersebut dikelola secara stabil, baik
penjualan maupun keuntungannya. Pemilik bisnis kecil akan memulai sebagai
wirausaha akan berfokus pada pertumbuhan bisnis menjadi lebih besar.
Bisnis alami para wirausaha atau pebisnis adalah bisnis kecil. Apabila
bisnis tersebut menjadi besar, maka muncul berbagai kerumitan yang semakin lama
tidak dapat diatasi oleh para wirausaha tersebut sehingga mereka harus
digantikan oleh para profesional bisnis. Para wirausahawan pada umumnya adalah
orang yang cepat melihat kesempatan untuk mencapai hasil kerja, sedangkan para
profesional bisnis merupakan orang yang mengawal status quo. Menjadi seorang
wirausaha atau pebisnis memang dituntut untuk berani
mengambil risiko, terutama untuk yang baru memulai atau belajar menjadi
wirausaha atau pebisnis. Apabila ada pepatah ’kegagalan adalah kesuksesan yang
tertunda’, maka hal itulah yang harus disadari oleh wirausaha pemula. Para
wirausaha pemula juga harus berani memulai kegiatan bisnisnya dari kecil, yang
akan menjadi besar nanti apabila mereka tekun dan tidak pantang menyerah.
Para wirausaha atau pebisnis mempunyai kelebihan dalam hal kesabaran dan
tenaga yang tidak terbatas. Beberapa wirausaha memiliki modal uang, namun pada
umumnya bukan berasal dari keluarga bangsawan, melainkan dari golongan menengah
ke bawah yang didorong untuk mewujudkan gagasan inovatif, mewujudkan impiannya
menjadi kenyataan, dan bukan menjadikan keuntungan sebagai sasaran utama. Kata
kunci mereka adalah kreativitas dan inovasi yang juga menjadi keuntungan yang
dapat diraihnya. Keuntungan ini akan berkurang manakala persaingan meningkat.
Oleh karena itu, kreativitas dan inovasi ini harus dilakukan secara
berkesinambungan agar perusahaan dapat berumur
panjang.
Karakteristik lain seorang wirausaha atau pebisnis adalah memiliki
keinginan untuk berprestasi dan bertanggung jawab, memiliki persepsi pada
risiko, aktif dan enerjik, memiliki persepsi pada kemungkinan keberhasilan
usahanya, memiliki orientasi terhadap masa depan, dapat dirangsang dengan umpan
balik yang diterimanya, terampil dalam mengelola, dan mempunyai sikap bahwa
uang bukan merupakan tujuan pertama. Beberapa ahli lain juga menyatakan bahwa
para wirausaha pada umum memiliki karakteristik seperti bertanggung jawab atas
usaha yang dilakukan, memilih risiko moderat, percaya diri, menginginkan umpan
balik yang jelas, berorientasi ke masa depan, suka bekerja keras dan
bersemangat, terampil mengorganisasi sumber daya untuk mendapatkan nilai
tambah, dan menilai keberhasilan dengan uang yang berhasil diperolehnya.
B.
MENDIRIKAN BISNIS DAN KEWIRAUSAHAAN
Setiap
kegiatan bisnis berkaitan dengan transaksi dengan orang. Orang- orang tersebut
dipengaruhi oleh bisnis dan terlibat di dalamnya dengan kepentingan tertentu
sehingga disebut pemangku kepentingan.
Ada lima pemangku kepentingan dalam bisnis, yaitu pemilik, kreditur, karyawan,
pemasok, dan pelanggan. Setiap bisnis dimulai sebagai hasil ide mengenai
produk atau jasa
oleh satu atau beberapa orang yang disebut wirausaha atau pebisnis (entrepreneur), yang mengorganisasi,
mengelola, dan membuat asumsi mengenai risiko yang dimulai dalam bisnis
tersebut. Wirausaha atau pebisnis tersebut penting dalam pengembangan bisnis
baru karena mereka menciptakan produk baru yang diinginkan pelanggan. Bila
bisnis tersebut tumbuh, bisnis ini membutuhkan lebih banyak dana daripada yang
dimiliki wirausahawan. Oleh karena itu, wirausahawan memerlukan orang atau
pihak lain. Apabila wirausahawan telah menerima investasi dari beberapa pihak
lain, ia akan memperluas bisnisnya dan mendapatkan keuntungan dengan berbagi
kepemilikannya tersebut. Semakin besar bisnisnya, wirausahawan bisa berpikir
untuk menjual saham atau kepemilikannya kepada investor yang kemudian menjadi
bagian dari pemilik bisnis tersebut dan disebut
stockholder atau shareholder.
Beberapa bisnis juga adakalanya didukung oleh sumber dana lain di luar
pemilik, dengan cara meminjam dana dari institusi atau lembaga keuangan yang
disebut kreditor. Peminjaman dana tersebut tentu saja ada periode atau jangka
waktunya. Bisnis yang meminjam dana dari kreditor akan dikenai bunga setiap
periode waktu tertentu. Kreditor akan meminjamkan dananya kepada perusahaan
bisnis yang dapat dipercaya dapat mengembalikan pokok pinjaman dan bunganya.
Selain kreditor yang membantu menyediaan dana, kegiatan operasional perusahaan
bisnis tidak dapat berjalan apabila tidak ada individu atau orang yang
mengerjakannya, baik sebagai manajer maupun sebagai karyawan. Manajer bertindak
sebagai pihak yang mengelola kegiatan operasional bisnis tersebut yang berusaha
mencapai tujuan melalui orang lain, sedangkan
karyawan merupakan pelaksana operasional di
lapangan.
Kegiatan bisnis juga memerlukan berbagai pasokan, baik bahan baku atau
material, bahan pembantu, mesin atau peralatan, maupun tenaga kerja. Perusahaan
manufaktur sangat membutuhkan pemasok untuk dapat menjalankan kegiatan
operasionalnya dengan menjamin keberlanjutan proses bisnis dengan penyediaan
bahan baku atau material. Pemangku kepentingan lainnya adalah pelanggan.
Perusahaan bisnis tidak dapat hidup tanpa pelanggan. Untuk menjamin kelangsungan
hidupnya, bisnis harus memahami kebutuhan dan harapan pelanggan dengan kualitas
yang baik dan harga terjangkau. Bila harapan pelanggan tidak dapat terpenuhi,
mereka akan beralih ke perusahaan lain yang menjadi pesaing.
kreatifnya tanpa
memikirkan keuntungan, dan ada pula yang telah memiliki pekerjaan tetap di
tempat lain tetapi ingin membantu teman-temannya melakukan bisnis. Dengan usaha
yang keras dan ketekunan yang tinggi, para wirausaha atau pebisnis tersebut
dapat meningkatkan usahanya, baik dalam kuantitas maupun kualitas, baik dengan
memperbesar satu jenis usahanya maupun dengan mengadakan diversifikasi bisnis.
Selanjutnya, para wirausaha atau pebisnis yang sukses mempunyai beberapa
karakteristik tertentu, yaitu memiliki banyak akal atau ide, mempunyai
perhatian pada hubungan yang baik dengan pelanggan, mampu menghadapi
ketidakpastian dan menanggung risiko, ingin menjadi pemimpin dalam bisnis yang
dimilikinya, memiliki pengendalian yang lebih besar dalam hidupnya, dan
membangun semangat kekeluargaan. Pada masa lalu, wirausaha atau pebisnis
distereotipkan dengan bos atau pemimpin, pria, percaya diri, dan mampu membuat
keputusan dengan cepat. Sekarang, wirausaha dipandang sebagai pemimpin yang
bersifat terbuka, bisa pria ataupun wanita, mempunyai jejaring yang luas,
memiliki perencanaan bisnis, dan mempunyai konsensus.
Menurut Madura (2007), untuk menjalankan bisnis, para wirausaha harus mampu menciptakan dan menjalankan
bisnis dengan sukses sehingga menghasilkan keuntungan yang lebih besar. Oleh
karena itu, para wirausaha harus memahami beberapa hal yang terkait dengan
bisnis. Pertama, jika Anda akan
mengembangkan keahlian berbisnis maka Anda akan mampu mendapatkan pekerjaan
yang lebih baik. Kedua, Anda akan
menemukan pekerjaan yang menyenangkan bila Anda memahami bagaimana cara
melakukan pekerjaan itu. Ketiga, Anda
harus melakukan pekerjaan dengan baik agar Anda merasa puas dan memiliki karir
yang lebih baik. Keempat, Anda harus
mampu melihat tipe bisnis manakah yang dapat Anda kerjakan dengan baik.
Dalam menjalankan binis terdapat keputusan kunci yang dilakukan, dan terdiri
dari tiga kategori, yaitu keputusan manajemen, keputusan pemasaran, dan
keputusan keuangan. Keputusan manajemen merupakan keputusan dalam menggunakan
berbagai sumber daya yang ada dalam perusahaan. Keputusan pemasaran merupakan
keputusan dalam menentukan produk yang ditawarkan, harga, promosi, dan
distribusi. Keputusan keuangan merupakan keputusan yang diambil dalam mencari
dan menggunakan sumber dana untuk melaksanakan kegiatan operasional perusahaan.
Keputusan perusahaan
dipengaruhi
oleh data dan informasi yang dikumpulkan. Oleh karena itu, diperlukan dua
kategori dalam pengambilan keputusan, yaitu akuntansi dan sistem informasi.
Akuntansi merupakan rangkuman dan analisis kondisi keuangan perusahaan yang
digunakan untuk mengambil berbagai keputusan bisnis. Sistem informasi merupakan
teknologi, orang, dan prosedur yang menyediakan informasi yang tepat dalam
mengambil keputusan dalam perusahaan.
Bisnis
harus mampu meningkatkan kinerja perusahaan melalui keputusan yang penting bagi organisasi, baik
keputusan mengenai manajemen, pemasaran, maupun keuangan. Keputusan manajemen
menyangkut pengelolaan sumber daya manusia dan sumber daya lain untuk
melaksanakan proses produksi perusahaan secara efisien dan efektif. Keputusan
pemasaran pada umumnya berkaitan dengan pelanggan, yaitu kebutuhan dan harapan
pelanggan. Sementara itu, keputusan keuangan menyangkut cara dana diperoleh
(melalui investor atau hutang dari lembaga keuangan lain) dengan
mempertimbangkan tingkat suku bunga yang berlaku. Ada kalanya, keputusan
masing-masing bidang (manajemen, pemasaran, keuangan) tersebut tidak saling
terkait, namun ada kalanya ketiganya harus saling dikaitkan.
Pada
umumnya bisnis kecil yang dipimpin oleh wirausaha baru memainkan peran utama
dalam memberikan layanan, pengecer (retailer),
mengembangkan usaha konstruksi, pedagang besar, menjalankan bisnis keuangan dan
asuransi, pemanufakturan yang menghasilkan produk, dan transportasi. Biasanya,
semakin banyak sumber daya yang dibutuhkan, semakin sulit memulai suatu bisnis
sehingga industri yang ada lebih didominasi oleh perusahaan kecil. Kriteria
mengenai banyaknya karyawan atau jumlah penjualan per tahun berbeda-beda di
antara industri.
Para
wirausaha atau pebisnis pemula juga kerap kali mendirikan bisnis maya (virtual business) yang tidak menggunakan
bentuk fisik perusahaan namun menggunakan internet sebagai sarana berbisnis.
Bisnis di dunia maya tersebut sering disebut dengan bisnis secara online. Bisnis online ini mampu menyerap ribuan pelanggan dan dapat berkembang
sangat cepat. Para wirausahawan tersebut mendapat berbagai keuntungan bukan
hanya dalam bentuk uang, melainkan mereka juga dapat menjadi pimpinan di
perusahaan sendiri, dapat mengerjakan hal yang disukainya, memiliki kesempatan
untuk
berkreasi atau mengembangkan kreativitasnya, dan dapat mengatur sendiri
jadwal kerjanya (Brown & Clow, 2008).
Untuk memulai bisnisnya, biasanya para pelaku bisnis menyusun perencanaan
bisnis (business plan). Perencanaan bisnis merupakan deskripsi mengenai proyek bisnis yang akan
dijalankan dengan berbagai aspeknya. Perencanaan bisnis tersebut membantu
wirausaha memfokuskan pada hal yang ingin mereka kerjakan, cara mereka akan
mengerjakannya, dan hal yang mereka harapkan akan dicapai. Perencanaan bisnis
ini juga berguna bagi lembaga keuangan dan investor yang membantu wirausaha
memulai bisnisnya. Hal-hal apa sajakah yang dipaparkan dalam perencanaan bisnis
tersebut?
a.
Pertama adalah tim manajemen atau
pengelola bisnis dan deskripsi tentang perusahaan atau unit bisnis yang akan
didirikan (ukuran, lingkup, dan jenis bisnis yang akan dilaksanakan), serta
visi dan misi didirikannya bisnis tersebut.
b.
Kedua adalah gambaran mengenai
industri atau bisnis yang sejenis, analisis pasar, analisis persaingan, dan
rencana pemasaran (harga, taktik pemasaran, citra perusahaan, media periklanan).
c.
Ketiga adalah berbagai perencanaan
yang meliputi perencanaan operasional, perencanaan organisasional, perencanaan
finansial, perencanaan untuk menumbuhkembangkan bisnis, serta perencanaan situasional (risiko bisnis
dan cara menghadapi atau mengantisipasinya).